A.
Definisi Pendidik Dalam Pendidikan Islam
Dalam Islam, pendidik memiliki beberapa istilah seperti muallim,
muaddib, murabbi dan ustad.
1.
Muallim:
Istilah ini lebih menekankan posisi pendidik sebagai pengajar dan penyampai
pengetahuan dan ilmu.
2.
Muaddib:
istilah ini lebih menekankan pendidik sebagai Pembina moralitas dan akhlak
peserta didik dengan keteladanan.
3.
Murabbi:
istilah ini lebih menekankan pengembangan dan pemeliharaan baik dalam aspek
jasmaniah maupun ruhaniah.
4.
Ustad:
istilah ini merupakan istilah umum yang sering dipakai dan memiliki cakupan
makna yang luas yang sering disebut sebagai guru.
Jadi guru atau
pendidik adalah orang yang mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkan dengan
sungguh-sungguh, toleran dan menjadikan peserta didiknya lebih baik dalam
segala hal.
Pendidik
merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian
dan pengabadian kepada masyarakat terutama bagi pendidik dan perguruan tinggi.
Pendidik adalah
orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik.
Dwi Nugroho
Hidayanto, menginventarisir bahwa pengertian pendidik ini meliputi;
a)
Orang
dewasa
b)
Orang
tua
c)
Guru
d)
Pemimpin
masyarakat
e)
Pemimpin
agama
Secara umum dikatakan bahwa setiap orang dewasa dalam masyarakat
dapat menjadi pendidik, sebab pendidikan merupakan suatu perbuatan sosial,
perbuatan fundamental yang menyangkut keutuhan perkembangan pribadi dewasa
susila. Pribadi dewasa susila itu sendiri memiliki beberapa karakteristik
yaitu;
a)
Mempunyai
individualism yang utuh
b)
Mempunyai
sosialitas yang utuh
c)
Mempunyai
norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan
d)
Bertindak
sesuai dengan norma dan nilai-nilai atas tanggug jawab sendiri demi kebahagiaan
dirinya dan kebahagiaan masyarakat atau orang lain
B. Syarat-Syarat Dan Sifat-Sifat Yang Harus Dimiliki Oleh Pendidik
Syarat-syarat guru dalam pendidikan Islam yaitu:
a)
Dia
harus beragama
b)
Mampu
bertanggung jawab atas kesejahteraan agama
c)
Dia
tidak kalah dengan guru-guru sekolah umum lainnya dalam membentuk warga Negara
yang demokratis, dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa dan tanah air
d)
Dia
harus memiliki panggilan murni dari hatinya
e)
Seorang
guru harus menguasai mata pelajaran yang akan disampaikannnya, serta
memperdalam pengetahunnya sehingga mata pelajaran yang diajarkannya tidak akan
bersifat dangkal
f)
Seorang
guru harus mengetahui tabiat, pembawaan, adat, kebiasaan, rasa dan pemkiran murid-muridnya agar tidak keliru
dalam mendidik murid-muridnya.
Sedangkan menurut menurut tim penyusun buku teks ilmu pendidikan
Islam perguruan tinggi agama merumuskan bahwa syarat untuk menjadi guru agama
ialah bertaqwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani, berakhlak baik,
bertanggung jawab dan berjiwa nasional.
Al-alirasyi menyebutkan bahwa guru dalam Islam sebaiknya memiliki
sifat-sifat sebagai berikut ini:
1.
Zuhud
(tidak mengutamakan materi, mengajar karena mencari keridhaan dari Allah)
2.
Bersih
tubuhnya (penampilan lahirnya menyenangkan)
3.
Bersih
jiwanya (tidak mempunyai dosa besar)
4.
Bijaksana
5.
Ikhlas
dalam menjalankan tugas
6.
Mencintai
murd-muridnya
Ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam
melaksanakan tugasnya dalam mendidik, yaitu;
a.
Kematangan
diri yang stabil
Memahami diri sendiri, mencintai diri secar wajar dan memiliki
nilai-nilai kemanusiaan serta bertindak sesuai dengan nilai-nilai itu, sehingga
ia bertanggung jawab sendiri atas hidupnya, tidak menggantungkan diri atau
menjadi beban orang lain.
b.
Kematangan
sosial yang stabil
Dalam hal ini pendidik dituntut mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang masyarakatnya, dan mempunyai kecakapan membina kerja sama dengan orang
lain.
c.
Kematangan
professional (kemampuan mendidik)
Yakni menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan
perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunakan cara-cara mendidik.
C.
Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam
Mengenai tugas pendidik, ahli-ahli pendidikan Islam telah sepakat
bahwa tugas seorang pendidik ialah mendidik. Mendidik adalah tugas yang amat
luas, mendidik itu dilakukan dalam bentuk mengajar, memberikan dorongan,
memuji, menghukum, member contoh, membiasakan, dan lain sebagainya.
Bagi seorang pendidik harus
memperlihatkan bahwa ia mampu mandiri, tidak tergantung kepada orang lain. Ia
harus mampu membentuk dirinya sendiri. Dia juga bukan saja dituntut bertanggung
jawab terhadap anak didik, namun dituntut pula bertanggung jawab terhadap
dirinya sendiri. Tanggung jawab ini didasarkan atas kebebasan yang ada pada
dirinya untuk memilih perbuatan yang menurutnya. Apa yang dilakukannya menjadi
teladan bagi peserta didik.
Tapi secara umum, tugas seorang guru atau pendidik antara lain:
a.
Educator
atau pendidik
Maksudnya seorang guru harus mendidik murid-muridnya sesuai materi pelajaran
yang diberikan kepadanya.
b.
Leader
(pemimpin)
Guru atau pendidik juga seorang pemimpin di kelas, karena itu, ia
harus bisa menguasai, mengendalikan, dan mengarahkan murid-murid dalam kelas
menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang berkualitas.
c.
Fasilitator
Sebagai fasilitator, pendidik bertugas memfasilitasi murid untuk
menemukan dan mengembangkan bakatnya dengan cara yang benar.
d.
Motivator
Sebagai seorang motivator, seorang guru harus mampu membangkitkan
semangat belajar dan mengubur kelemahan anak didik.
e.
Administrator
Dalam hal ini tugas seorang guru yaitu mengabsen, mengisi jurnal
kelas dengan lengkap, membuat soal ujian dan lain-lain.
f.
Evaluator
Dengan evaluasi, guru diharapkan lebih baik dalam segala hal,
seperti kapasitas intelektualnya, integritas kepribadiannya, pendekatan
metodologi pengajarannya dan lain-lain.
D. Pengertian Belajar, Mengajar dan
Pembelajaran
1. Pengertian Belajar
Para ahli
mendefinisikan belajar dengan berbagai rumusan, sehingga terdapat keseragaman
tentang makna belajar diantaranya:
a..Geoch, mengatakan : learning is a change in performance as a
result of practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam
performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
b. Cronbach memberikan defenisi : learning is show by a change in
behavior as a result of experience(:belajar adalah pertunjukan oleh perubahan
perilaku sebagai hasil dari pengalaman
c. Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory
berpendapatLearning is a change in organism due to experience which can affect
rhe organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi
dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat
mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. jadi, dalam pandangan Hintzman,
perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dikatakan belajar
apabila memengaruhi organisme.
d. Arthur J. Gates, menurutnya yang dinamakan belajar adalah
perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan (leraning is the
modification of behavior through experience and training)
Dari berbagai definisi belajar yang telah dikemukakan para
ahli tersebut dapat ditarik semacam kesimpulan bahwa pada hakikatnya belajar
adalah proses penguasaan sesuatu yang dipelajari, maka dapat diterangkan bahwa
belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan
serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca,mengamati, mendengarkan, meniru
dan lain sebagainya.
Selanjutnya dalam perspektif agama pun (dalam hal ini Islam),
belajar merupakan kewajiban bagi setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu
pengetahuan sehingga derajad kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam
surah Mujadalah: 11 yang artinya: “niscaya Allah akan meningkatkan beberapa
derajad kepada orang-orang dan “berilmu”. Ilmu dalam hal ini tentu saja harus
berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan zaman dan bermanfaat bagi
kehidupan orang banyak.
Belajar memiliki tiga arti penting menurut Al-Qur’an. Pertama,
bahwa orang yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk
memecahkan segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia. Kedua, manusia
dapat mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat
membenci orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya
karena setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya. Ketiga,
dengan ilmu yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah.
2. Pengertian Mengajar
Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem
lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.
Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru.
Disamping itu ada beberapa difinisi lain yakni:
a. Mengajar adalah
menyampaikan pengetahuan pada siswa. Menurut pengertian ini berarti tujuan
belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin mendapatkan atau menguasai
pengetahuan.
b. Dalam pengertian yang
luas, mengajar diartiakn sebagai suatau aktivitas mengorganisasikan atau
mengatur lingkunagn sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga
terjadi proses belajar. Atau dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan
kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.
Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak
secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik maupun mental.
3. Pengertian
Pembelajaran
Pembelajaran merupakan
proses yang kompleks , di dalamnya mencakup proses/kegiatan belajar dan
kegiatan mengajar. Kegiatan belajar terutma terjadi pada siswa dengan segala
aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sedangkan kegiatan mengajar diperankan
oleh guru atau dosen dalam perannya sebagai fasilitator dan desainer proses
pembelajaran. Oleh karena itu kualitas proses pembelajaran termasuk juga
hasil-hasilnya sangat ditentukan oleh kualitas interaksi dalam proses tersebut,
meskipun dikarenakan kewenangannya peran guru/dosen akan lebih menonjol bila
dilihat dari sudut manajemen pembelajaran. Dalam suatu institusi pendidikan,
murid/mahasiswa dipandang pihak yang belajar, guru/dosen sebagai pihak yang mengajar dan seluruh konstelasi
tersebut serta komponen-komponennya dalam suatu setting tertentu pada dasarnya
menggambarkan suatu proses pembelajaran yang merupakan salah satu aktivitas
penting dalam proses pendidikan pada institusi pendidikan. proses pembelajaran
merupakan suatu interaksi antara pembelajar (siswa/mahasiswa) dan pengajar
(guru/dosen) dalam suatu interaksi
sosial yang khas (interaksi edukatif) guna mencapai tujuan pembelajaran.
Pelajar adalah pihak yang harus memanfaatkan proses tersebut untuk mencapai
tujuan belajarnya dan guru/dosen merupakan pihak yang harus membantu
terciptanya proses yang kondusif bagi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan belajar siswa
sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dengan mengacu pada kurikulum dan
bahan ajar tertentu untuk kemudian dipilih metoda dan media yang tepat.
E. Pengertian Proses
Belajar Mengajar dalam Pendidikan Islam
Proses belajar mengajar secara sederhana dapat diartikan sebagai
kegiatan interaksi dan saling memengaruhi antara pendidik dan peserta didik,
dengan fungsi utama pendidikan memberikan materi pelajaran atau sesuatu yang
memengaruhi peserta didik, sedangkan peserta didik menerima pelajaran, pengaruh
atau sesuatu yang diberikan oleh pendidik. Pengertian proses belajar mengajar
dalam arti sederhana ini dapat dipahami dari beberapa ayat dibawah ini.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. al-Alaq (96): 1-5)
Dan Dia Mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:” Sebutkanlah
kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS.
al-Baqarah (2): 31)
Dan Sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada luqman, yaitu:
Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak
bersyuku, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia member pelajaran
kepadanya:“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman
(31): 12-13).
Dan ayat-ayat al Qur’an tersebut dapat diperoleh isyarat tentang
kegiatan belajamengajar dengan berbagai komponen . pada surat al alaq (96) ayat
1 hingga 5, prose belajar mengajar berlangsung dari tuhan kepada nabi Muhammad
SAW. melalui metode membaca (iqra’) tuhan (melalui malaikat jibril ) ingin agar
nabi Muhammad SAW membacakan segala sesuatu yang disampaikan oleh malaikat
jibril.
Pada surat al- baqarah yat 31, proses belajar mengajar berlangsung
dari tuhan ( sebagai maha guru) kepada adam ( sebagai mahasiswa). Adapun materi
yang diajarkan pada proses belajar mengajar tersebut berupa nama-nama segala
sesuatu, tersebut nama-nama benda, yakni hokum-hukum alam yang terdapat di alam
jagat raya, yang semuanya itu sebagai bukti adanya nama-nama atau tanda-tanda
kekuasaan tuhan. Adapun metode yang
digunakan adalah metode al-ta’lim, yakni memberikan pengertian, pemahaman,
wawasan, dan pencerahan tentang segala sesuatu dalam rangka membentuk pola
pikir (mindset).
Selanjutnya pada surat Luqman ayat 12, proses belajar mengajar
berlangsung dari tuhan kepada Luqman al- Hakim , materi yang diajarkan berupa
hikmah, dan tujuan nya agar lukman menjadi orang yang bersyukur, yakni selain
memuji keagungan allah SWT, juga mau mengamalkan ilmunya itu dalam kehidupan
sehari-hari, serta mengjarkannya kepada anak-anaknya, dan seterusnya.
Dalam pengertian yang lebih luas dan sistematik, proses belajar
megajar adalah kegiatan yang melibatkan sejumlah komponen yang antara satu dan
lainnya. Komponen tersebut antara lain meliputi visi dan tujuan yang ingin
dicapai, guru yang professional dan siap mengajar, murid yang siap menerima
pelajaran, pendekatan yang akan digunakan, strategi yang akan diterapkan,
metode yang akan dipilih, teknik dan taktik yang akan digunakan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah proses belajar mengajar
itu dapat dilihat pada sejauh mana proses tersebut mampu menumbuhkan, membina,
membentuk, dan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki manusia, atau pada sejauh
mana ia mampu memberikan perubahan secara signifikan pada kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotor peserta didik.
Proses blajar mengajar secara singkat ialah proses memanusiakan
manusia, yakni mengaktualisasikan berbagai potensi manusia, sehingga potensi-potensi
tersebut dapat menolong dirinya, keluarga, masyarakat, abngsa dan negaranya.
Sebuah proses belajar mengajar dapat di katakana gagal, jika antara sebelum dan
sesudah mengikuti sebuah kegiatan belajar mengajar, namun tidak ada perubahan
apa-apa pada diri siswa atau mahasiswa.
Konsep belajar mengajar yang berbasis pada proses ini juga terdapat
dalam konsep belajar tuntas atau mastery learning yang digagas oleh benyamin S.
Bloom. Menurutnya, bahwa pada dasarnya semua orang dapat menguasai bahan pelajaran
samapi tuntas. Namun untuk menguasai bahan pelajaran tersebut setiap orang
harus diperlakukan secara berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
Bagi siswa yang kecerdasan tinggi agar diperlakukan berbeda dengan siswa yang
kecerdasannya sedang-sedang saja atau rendah. Dengan memperlakukan cara dan
lama nya waktu yang dibutuhkan secara berbeda-beda, akhirnya seseorang akan
sampai pada tujuannya masing-masing dan menguasai bahan pelajaran sampai
tuntas.
F. Komponen-Komponen
Proses Belajar Mengajar dalam Pendidikan Islam
Selain terdapat guru dan murid serta mungkin sejumlah teknisi atau
fisilitator lainnya yang membantu, kegiatan proses belajar mengajar juga
membutuhkan kejelasan sejumlah komponen atau aspek lainnya. komponen atau aspek
tersebut yaitu aspek tujuan, pendekatan, metode, teknik, dan taktik. Berbagai
komponen atau aspek tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. Menentukan tujuan
belajar mengajar
Tujuan belajar mengajar adalah sejumlah kompetensi atau kemampuan
tertentu yang harus di kuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan
belajar mengajar. Tujuan belajar mengajar secara lebih detail dan terperinci
harus dirumuskan oleh setiap guru yang akan mengajar. Pada setiap tujuan
belajar mengajar dari setiap mata pelajaran perlu dirumuskan dengan jelas dan
operasional tentang kompetensi atau kemampuan yang ingin diwujudkan pada setiap
peserta didik, baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor. Dengan
cara demikian, proses belajar mengajar tersebut akan dapat berjalan secara
efisien dan efektif, dan terhindar dari perbuatan yang sia-sia.
Dalam perkembangan selanjutnya, tujuan pendidikan juga harus
menjamin terpenuhinya tujuan kehidupan yang bersifat individual dan tujuan
sosial secara seimbang. Tujuan individual antara lain terkait dengan
penggalian, pembinaan, dan pengembangan bakat, minat, dan berbagai kemampuan
manusia yang dimiliki manusia. Berdasarkan pada tujuan ini, maka pendidikan
dapat dirumuskan sebagai upaya menciptakan situasi dan kondisi yang sebaik-baiknya
yang memungkinkan dapat menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan bakat,
minat, dan berbagai potensi yang dimiliki manusia. Selanjutnya tujuan sosial
antara lain terkait dengan upaya mewariskan, menanamkan, memasukkan nilai-nilai
ajaran agama, nilai budaya, ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan
sebagainya dari generasi terdahulu kepada generasi yang datng kemudian, agar
terwujud kesinambungn cita-cita luhur, ketertiban, ketentraman, dan ketenangan
hidup dalam masuyarakat. Dalam pada itu, jika perpaduan tujuan individu dan
tujuan sosial dalam pendidikan, maka tujuan pendidikan dapat dirumuskan, bukan
hanya dalam rangka mengikuti kemauan individual dengan jalan mengembangkan
bakat dan minatnya, melainkan juga memenuhi kebutuhan sosial dengan jalan
memelihara dan mewariskan nilai-nilai budaya, ilmu pengetahuan, keterampilan,
pengalaman, dan lain sebagainya. Inilah sebab yang mendasari lahirnya berbagai
rumusan tujuan pendididkan yang berbeda-beda.
2. Menentukan pendekatan
dalam proses belajar mengajar
Pendekatan dapat diartikan sebagai cara pandang atau titik tolak
yang digunakan dalam menjelaskan suatu masalah. Karena cara pandang atau titik
tolak yang dapat digunkan dalam menjelaskan sesuatu masalah itu amat banyak,
maka kesimpulan yang akan dihasilkan pun akan berbeda-beda. Dengan demikian,
pendekatan dalam proses belajar mengajar adalah cara pandang atau titik tolak
yang digunakan seorang guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Dilihat dari segi bentuk dan macamnya, pendekatan proses belajar
mengajar dapat dilihat dari segi kepentingan guru (eksternal atau teacher
centris), kepentingan murid (internal atau student centris) dan perpaduan di
antara dua kepentingan tersebut (konvergensi). Penjelasan atas ketiga segi
kepentingan ini telah dijelaskan pada uraian di atas. Selain itu, pendekatan
juga dapat dilihat dari segi disiplin ilmu yang digunakan, misalnya pendekatan
normatif teologis, histori empiris, filosofis, sosiologis, politik, ekonomi,
hukum dan sebagai nya).
Dengan pendekatan normatif teologis, kegiatan proses belajar
mengajar dilakukan berdasarkan pada petunjuk yang terdapat di dalam ajaran
agama yang diyakini pasti benar. Dengan pendekatan historis empiris, kegiatan
proses belajar mengajar dilakukan berdasarkan praktik yang pernah ada dalam
sejarah dan dapat ditemukan baik bukti-bukti tertulisnya maupun praktiknya
dilapangan. Selanjutnya dengan pendekatan filosofis, kegiatan proses belajar
dilakukan berdasarkan pandangan dan gagasan yang dikemukakan para fisuf.
Demikian seterusnya. Seterusnya selain itu pendekatan dalam proses belajar
mengajar juga dapat dilihat dari segi metode berpikiryang digunakan, misalnya
metode berpikir induktif, deduktif atau perpaduan antara keduanya.
Pendekatan dalam proses belajar mengajar, juga dapat dilihat khusus
dari segi latar belakang peserta didik, yaitu ada peserta didik yang masih
kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, dan manusia lanjut usia (manula).
Berbagai cirri psikologis yang terdapat pada setiap kategori usia tersebut
digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukkan proses belajar mengajar.
Sebuah materi yang sama yang akan diajarkan kpada setiap manusia pada setiap
tingkatan tersebut, mengharuskan adanya pendektan yang berbeda.
3. Menentukan Metode
Pengajaran
Metode mengajar secara harfiah bearati cara mengajar. Adapun dalam
pengertian yang umum, metode mengajar adalah cara atau langkah-langkah
sistematik yang ditempuh oleh seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran
kepada peserta didik. Di dalam buku-buku tentang metodologi pengajaran dapat
dijumpai berbagai metode pengajaran yang amat beragam. Abdul Mujib dan Jusuf
Mudzakkir misalnya menyebutkan adanya metode diakronis, sinkronis analisis,
problem solving, empiris, induktif dan deduktif. Sementara itu, Hery Noer Ali
mengemukakan adanya metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, pemberian tugas
(resitasi), demonstrasi (eksperimen), bekerja kelompok, sosiodrama ( bermain
peran), karya wisata, latihan siap (drill), dan sistem regu ( team teaching).
Berbagai metode pengajaran tersebut pada intinya ialah berbagai
alternatif jalan yang dapat ditempuh agar pengajaran dapat berjalan efektif,
memberi pengaruh dan mampu memberikan perubahan peserta didik.
Berbagai metode itu muncul, karena berbagai factor, antara lain
1.
Adanya
berbagai macam ilmu dan keterampilan yang akan diajarkan yang menghendaki kesesuaian dengan metode yang
akan digunakan.
2.
Adanya
berbagai tingkatan usia dan kecerdasan peserta didik menyebabkan perbedaan
cirri-ciri kejiwaan yang selanjutnya menghendaki adanya penggunaan metode yang
tepat.
3.
Adanya
berbagai situasi dan kondisi yang menghendaki adanya penggunaan metode yang
relevan.
4.
Ketersediaan,
kelengkapan atau kekurangan sarana prasarana yang menghendaki adanya kesesuaian
dengan metode yang akan di gunakan.
5.
Penguasaan
para guru yang ada dalam menggunakan berbagai metode tersebut.
4. Menentukan Teknik
Mengajar
Teknik mengajar adalah cara-cara yang terukur, sistematik, dan
spesifik dalam melakukan suatu pekerjaan. Perbedaan teknik yang digunakan akan
menentukan perbedaan hasil, tingkat kecepatan dan kepuasan kepada orang yang
telibat atau merasakan manfaat dari pekerjaan tersebut. Tidak hanya dalam
kegiatan belajar mengajar, melain hampir seluruh kegiatan terdapat teknik dalam
melakukannya. Pada pertandingan olahraga misalnya, amat banyak di jumpai teknik
yang diterapkan di dalamnya.
Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat serangkaian
kegiatan yang memerlukan penguasaan teknik yang baik. Kegiatan belajar mengajar
tersebut misalnya: pendahuluan yang meliputi apersepsi, penyiapan mental dan
fisik peserta duntuk mengikuti pelajaran, pengaturan tempat duduk pesera didik,
dan pembuatan persiapan pengajaran secara tertulis. Selanjutnya diikuti dengan
kegiatan memberikan uraian atau penyajian materi, atau memberikan pengantar
diskusi, menghidupkan suasana kelas, memotivasi peserta didik, mengajukan
pertanyaan, menjawab pertanyaan, mengambil kesimpulan dan menutup pelajaran.
5. Menentukan Taktik
Yang dimaksud dengan taktik adalah rekayasa atau siasat dalam arti
positif yang digunakan oleh seorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Kata
taktik scara sepintas menggambarkan suatu perbuatan yang kurang terpuji, namun
hal tersebut amat tergantung pada tujuannya. Dalam kegiatan proses belajar mengajar
juga terdapat berbagai taktik yang dapat digunakan. Misalnya taktik yang
berkaitan dengan upaya mendorong para siswa agar datang tepat waktu,
mengerjakan tugas-tugas dengan baik, agar siswa meningkat perolehan nilai
ujiannya, agar gemar membaca, dan lain sebagainya. Semua taktik ini perlu
dilakukan dalam rangka mendukung pelaksaan metode pengajaran yang telah dipilih
berdasarkan pendekatan yang telah diterapkan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari bembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa seorang guru atau
pendidik adalah orang yang mempunyai banyak ilmu, mau mengamalkannya dengan
sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, toleran dan menjadikan peserta didiknya
lebih baik dalam segala hal.
Syarat untuk menjadi seorang guru atau pendidik dalam pendidikan
Islam yaitu harus bertaqwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmani, berakhlak
baik, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional. Sedangkan sifat-sifat yang harus
dimiliki seorang guru atau pendidik dalam pendidikan Islam yaitu harus bersifat
zuhud, ikhlas, bijaksana, mencintai muridnya dan lain sebagainya.
Tugas utama seorang guru atau pendidik ialah mendidik,baik dengan
bentuk mengajar, memberikan dorongan atau motivasi, memuji dan lain sebagainya.
B. Penutup
Demikianlah makalah ini kami buat. Kami menyadari masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan serta kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan dari pembaca.
Semoga apa yang telah kami susun dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya bagi
penyusun makalah ini sendiri dan seluruh teman-teman yang telah mendukung
terwujudnya makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin.
2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Prawira, Purwa
Atmaja. 2012. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, Yogyakarta:
Ar-ruzz Media.
Sardiman, a.m.
2008. Interaksi Dan Motivasi Belajar-Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo persada.
Syah, Muhibbin.
2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Tafsir, Ahamad.
2012. Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Umiarso &
Zamroni. 2011. Pendidikan Pembesan dalam Perspektif Barat dan Timur
,Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/keguruan/belajar-mengajar-dan-pembelajaran
(online), Diunduh 10 November 2014 pukul
10:25 WIB).